Analisis Perilaku Swamedikasi Antibiotik Berdasarkan Informasi Media Sosial, Pengetahuan, dan Lokasi Geografis pada Masyarakat Kabupaten Pati
Isi Artikel Utama
Abstrak
Perkembangan teknologi abad 21 khususnya di bidang medis merupakan terobosan terhadap kasus-kasus infeksi yang belum dapat ditangani sebelumnya. Namun ancaman baru justru datang dari munculnya fenomena biologis yang disebut sebagai resistensi antimikroba yang berkaitan juga dengan kurang bijaknya perlialku konsumsi obat-obatan jenis antibiotik. Persoalan ini tidak hanya terjadi pada skala lokal,namun merupakan krisis kesehatan global yang dipicu oleh multi faktor salah satunya adalah kelonggaran dalam akses mendapatkan antibiotik atau dipicu oleh interaksi antar individu manusia, dan penyebaran informasi secara massif di era digital. penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis perilaku Masyarakat dengan berfokus pada beberapa aspek yaitu Tingkat pengetahuan Masyarakat tentang antibiotik, selain itu akan dilihat pula mengenai sikap masyarakat terhadap informasi kesehatan dari media sosial, sedangkan yang terakhir adalah prevalensi swamedikasi pada masyarakat urban dan rural. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan metode desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Secara umum didapatkan hasil penelitian sebagai berikut keseleuruhan responden yang memiliki pengetahuan baik mengenai antibiotik mencapai 62,7%, sedangkan responden yang memiliki pengetahuan cukup sampai kurang mencapai 37,7%. Sikap Responden terhadap Informasi kesehatan di media sosial diperoleh hasil yaitu sebagian besar responden memiliki sikap yang relative negative terhadap penggunaan antibiotik yang dipengaruhi oleh informasi berdasarkan informasi media social. Prevalensi Perilaku Swamedikasi Antibiotik menunjukkan hampir 50% responden melakukan praktik swamedikasi. Terdapat hubungan antara jenis platform media sosial dengan pola swamedikasi pada responden. Pengguna platform whatsapp memiliki nilai prevalensi swamedikasi paling tinggi yaitu 58,9%. Tidak terdapat hubungan secara signifikan antara perilaku swamedikasi terhadap variabel geografis urban-rural.